Menu

Ekstraksi dan Indentifikasi Senyawa

Ekstraksi merupakan kegiatan untuk mengambil senyawa tertentu di suatu tumbuhan menggunakan suatu pelarut.

Ada beberapa buku referensui ekstraksi yang disarankan antara lain:
1. Buku Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuuhan Obat
2. Buku Farmakope Herbal

Berikut ini tahapan dalam ekstraksi, yaitu:
1. Pemilihan tumbuhan
dalam pemilihan tumbuhan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a. Keaslian tumbuhan yang diperoleh. Cara mengetahui tanaman yang diperoleh asli/sesuai dengan yang diharapkan yaitu dengan melakukan determinasi. Determinasi dilakukan di empat-tempat resmi seperti pusat penelitian, pusat studi, maupun badan pemerintah.

b. Tumbuhan yang diambil berasal dari satu tempat. Apabila diambil dari tempat yang berbeda, maka akan mempengaruhi kandungan pada tanaman tersebut.

2. Preparasi tanaman/bahan
dalam preparasi tanaman/bahan, langkah-langkah yang dilakukan adalah bahan dicuci, dikeringkan, dipotong dan diserbukkan. Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan kandungan air pada tanaman serta mencegah adanya jamur dan bakteri. Air pada tanaman dapat menyebabkan reaksi enzimatik sehingga berpengaruh pada metabolit. Hal yang perlu diperhatikan saat mengeringkan tanaman adalah stabilitas kandungan yang akan diambil. Apabila kandungan yang tidak stabil, bahan ditutup dengan kain hitam pada saat akan disinari dengan sinar matahari. Adapun cara lain dalam pengeringan dengan dilakukan di dalam ruangan yang posisinya dekat dengan sinar matahari. Setelah bahan cukup kering, selanjutnya bahan tersebut dipotong-potong agar memudahkan pada saat diserbukkan. Bahan yang sudah dipotong lalu dioven dengan suhu yang tidak terlalu tinggi agar tidak merusak senyawa yang terkandung. Selanjutnya bahan diserbukkan. Tujuan diserbukkan agar luas permukaannya bertambah luas dan kontak dengan pelarutnya semakin tinggai (menaikkan efektivitas saat ekstraksi).

3. Ekstraksi
a. Pemilihan pelarut
Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut, antara lain:

  • Pelarut yang digunakan sesuai dengan tingkat kepolaran golongan senyawa yang ingin diambil
  • Pelarut yang digunakan tidak toksik apabila penelitian yang dilakukan bertujuan untuk pengobatan. Sehingga pelarut yang digunakan adalah etanol, air, atau campuran air-etanol.

b. Pemilihan metode
Metode konvensional : maseerasi, soxhletasi, refluks

  • Soxhletasi merupakan metode pemisahan suatu kandungan yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang menggunakan pelarut tertentu. Cara ini hemat pelarut dan bahan tidak langsung terkena panas seperti refluks.
  • Maserasi merupakan serbuk direndam dengan pelarutnya selama semalam, dan diaduk. Setelah itu, dilakukan remaserasi untuk menaikkan efektivitas ekstraksi. Remaserasi dilakukan karena ada senyawa yang tertinggal (belum terekstraksi). Adanya senyawa yang tertinggal dikarenakan pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi telah mencapai titik jenuh.
  • Perkolasi merupakan metode perkolasi sejenis dengan maserasi. Serbuk simplisia direndam dengan pelarutnya selama semalam. Kemudian serbuk simplisia dialiri oleh pelarut yang selalu baru.

Metode modern : Ekstraksi dengan superkritikal karbondioksida, microwave, sonikator. Keuntungan dari metode ini adalah proses yang lebih cepat karena energinya lebih tinggi dan mengurangi limbah.
c. Setelah dilakukan ekstraksi lalu disaring. Hasil penyaringan 1, 2, 3, dst digabung menjadi satu lalu dikentalkan agar hasilnya lebih homogen. Hasil ekstraksi yang dikentalkan dengan berbagai cara, antara lain:

  • Rotatory evaporator (RE) apabila dengan pelarut yang mudah menguap seperti etanol.
  • Freeze dry apabila pelarutnya tidak menggunakan etanol.

d. Ekstrak kental ditimbang untuk untuk dihitung rendemennya.
e. Standarisasi ekstrak, merupakan penentuan parameter kualitatif dan kuantitatif baik terhadap senyawa aktif maupun senyawa khas lainnya dan sifat kimianya. Jenis parameter ada parameter yang spesifik dan non-spesifik.

Identifikasi golongan senyawa pada ekstrak:
1. Salah satu cara dengan KLT
2. Komponen utama KLT: fase gerak, fase diam, chamber, pembanding
3. Plat KLT silika gel F254 dilapisi senyawa fluorosence sehingga saat disinari dengan UV 254, silika nya berpendar sedangkan spot sampel meredam.
4. Perbedaan sinar UV 254 dan 366 adalah pada panjang gelombang 254, silika dapat berpendar dikarenakan adanya fluorescence dan senyawanya redam. Sedangkan pada panjang gelombang 366, senyawa akan berpendar jika menyerap gelombang dan silika akan redam.
5. Prinsip: Silika dipanaskan untuk diaktifkan, disiapkan fase geraknya, dan ditotolkan.
6. Parameter : Rf adalah perbandingan jarak elusi spot sampel dengan jarak elusi fase gerak.
7. Visualisasi spot: dengan sinar tampak, UV, reaksi semprot
8. Pemilihan fase gerak berdaasarkan sifat kepolaran
9. Selain diujikan dengan pembanding, dapat dilakukan dengan uji golongan
10. Uji golongan dilakukan dengan mereaksikan plat KLT dengan reagen, sesuai golongan senyawanya. Perhatikan cara mereaksikan. Ada beberapa uji golongan KLT antara lain:

  • Flavonoid : dengan AlCl3, uap amoniak
  • Alkaloid : dragendorf
  • Terpenoid : anisaldehid asam sulfat
  • Senyawa Fenolik : FeCl3

Ekstrak disimpan pada kulkas dengan suhu 4°C.

Kontributor: Ghina, Nadya, Tika