Menu

Nu-Pumpseed (Nutraceutical Pumpkin Seeds), Solusi untuk Mengatasi Osteoporosis dan Hiperkolesterolemia

Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P), Universitas Gadjah Mada melakukan penelitian tentang efektivitas biji labu kuning dengan judul Nu-Pumpseed (Nutraceutical Pumpkin Seeds): Suplemen Pencegah Osteoporosis dan Kolesterol dari Biji Labu Kuning (Cucurbita pepo L.) untuk Wanita Post Menstrual, Studi in Vivo dan in Silico. Penelitian ini diketuai oleh Beni Lestari dengan anggota penelitian Naisbitt Iman Hanif, Ariska Deffy Anggarany, Ziana Walidah, dan Thoriq Ziyad dibawah bimbingan Dr. drh. Retno Murwanti, M.P.

Diskusi Tim PKM

Produksi hormon estrogen yang berhenti pada wanita menopause menyebabkan berbagai macam penyakit seperti osteoporosis dan hiperkolestrolemia. Osteoporosis adalah penyakit di mana sel-sel osteoklas yang berfungsi sebagai perombak matriks tulang mengalami peningkatan secara signifikan sehingga dapat mengakibatkan penurunan postur tubuh sehingga tubuh menjadi bungkuk. Selain itu, estrogen berfungsi sebagai penekan konsentrasi LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan konsentrasi HDL (kolestrol baik), maka keadaan menopause dapat menyebabkan peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung dan stroke.

Pengobatan yang saat ini banyak dilakukan pada wanita menopause ialah menggunakan Hormon Replacement Therapy (HRT), HRT merupakan pengobatan yang dilakukan dengan mengkonsumsi hormon estrogen sintesis. Tetapi HRT ini memiliki banyak efek samping, seperti depresi, meningkatkan resiko stroke, kanker payudara dan kanker serviks.

Oleh karena itu, diperlukan alternatif lain yang aman dan efisien untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan senyawa fitoestrogen, salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai sumber estrogen adalah biji labu kuning (Curcubita pepo L). Biji labu kuning yang selama ini dianggap sebagai limbah yang tidak berguna, ternyata mengandung senyawa fitoestrogen jenis lignan secoisolariciresinol dan lariciresinol. Senyawa fitoestrogen ialah senyawa yang berasal dari tumbuhan dan mampu memberikan efek estrogenik (efek meniru hormon estrogen) karena kemampuan fitoestrogen mengikat reseptor estrogen yang berada di dalam tubuh. Selain itu, fitoestrogen juga lebih unggul, karena tidak memiliki efek samping yang berbahaya seperti HRT.

Dalam penelitian ini dilakukan pemodelan wanita menopause dengan menggunakan tikus galur sprague dawley yang terovariektomi. Ovariektomi ialah proses pembedahan singkat, di mana ovarim hewan uji diambil, sehingga hewan uji tidak dapat lagi memproduksi hormon estrogen seperti wanita menopause. Berdasarkan analisis tulang femur hewan uji didapatkan bahwa perlakuan ekstrak etanolik biji labu kuning dapat mencegah osteoporosis melalui peningkatan densitas tulang dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Perlakuan dengan ekstrak biji labu juga dapat memodulasi profil lipid darah, di mana teramati terjadi peningkatan nilai HDL (kolestrol baik), dan nilai LDL (kolestrol jahat) menurun secara signifikan.

Selain itu, kami juga melakukan analisis docking (pemodelan dengan komputer) untuk mengetahui apakah fitoestrogen lignan secoisolariciresinol dan lariciresinol dapat berikatan dengan reseptor estrogen seperti hormon estrogen aslinya. Berdasarkan hasil penelitian kami, lignan secoisolariciresinol dapat berikatan jauh lebih kuat ke reseptor estrogen α (ERα) dan reseptor estrogen beta (Erβ) dibandingkan hormon estrogen. Sedangkan lignan lariciresinol dapat berikatan lebih kuat dengan  reseptor Erβ dibandingkan hormon estrogen, dan mampu berkompetisi dengan hormon estrogen untuk mengikat reseptor  Erα.

Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa biji labu kuning terbukti memiliki efek estrogenik dan berpotensi mencegah penyakit osteoporosis dan hiperkolesterol pada wanita menopause. Beni Lestari dan kawan-kawan sebagai tim PKM ini juga mempunyai rencana untuk mengembangkan penelitiannya menjadi produk yang langsung dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas seperti, suplemen nutrasetikal, fortifikasi susu biji labu kuning, produk sereal dan cemilan sehat biji labu kuning. Tim ini memberi nama produknya “Nu- Pumpseed (Nutraceutical Pumpkin Seeds)”. Hasil penelitian ini mampu menghantarkan kelimanya melaju dalam kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2014 yang akan digelar di Universitas Diponegoro Semarang pada 25-28 Agustus mendatang.

Kontributor: Beni Lestari