Menu

Brokoli (Brassica oleracea Var italica)

Gambar 1. Brokoli (Brassica oleracea Var italica)

1. Nama Tanaman

Nama Indonesia: brokoli

Nama asing: broccoli, sprouting broccoli (English)

Sinonim: Brassica oleracea var. italica Plenck

2. Klasifikasi Tanaman

Divisio: Spermatophyta

Subdivisio: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Bangsa: Capparales

Suku : Brassicaceae

Marga: Brassica

Jenis: Brassica oleracea Var italica

3. Uraian Tanaman

Bagian brokoli yang dimakan adalah kepala bunga berwarna hijau yang tersusun rapat seperti cabang pohon dengan batang tebal. Sebagian besar kepala bunga tersebut dikelilingi dedaunan. Brokoli paling mirip dengan kembang kol, namun brokoli berwarna hijau, sedangkan kembang kol putih.

4. Habitat dan Penyebaran

Brokoli merupakan tanaman yang hidup pada cuaca dingin. Brokoli berasal dari daerah Laut Tengah dan sudah sejak masa Yunani Kuno dibudidayakan. Sayuran ini masuk ke Indonesia belum lama (sekitar 1970-an).

5. Kandungan Tanaman

Brokoli  banyak mengandung Sulforapan (SFN). Selain itu dari proses biosintesis di dalam brokoli juga dihasilkan 3,3-diindolilmetana (DIM). Juga terdapat kandungan lemak, protein, karbohidrat, serat, air, zat besi, kalsium, mineral, dan bermacam vitamin (A, C, E, Vitamin, ribofalvin, nikotinamide).

6. Manfaat Tanaman

Brokoli berkhasiat mempercepat penyembuhan penyakit serta mencegah dan menghambat perkembangan sel-sel kanker di dalam tubuh. Terutama penyakit kanker yang berkaitan dengan hormon, seperti kanker payudara pada wanita, dan kenker prostat yang mengancam pria.

Manfaat lain, brokoli mampu mencegah serangan stroke. Ini terbukti melalui penelitian yang dilakukan tim epidemologi dari Harvard University. Tanaman ini sangat baik dikonsumsi penderita kencing manis. Kandungan chromium dan seratnya dapat mengatur kadar gula darah. Brokoli memperkuat sel-sel tulang. Mengkonsumsinya sejak muda, mencegah penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis) di usia tua (Dalimartha, )

7. Penelitian Mekanisme Antikanker

Telah dilakukan penelitian untuk melihat pengaruh dari campuran SFN dan DIM dalam beberapa variasi konsentrasi terhadap pertumbuhan sel kanker kolon secara in vitro. Perbandingan profil antiproliferasi dari masing-masing senyawa menunjukkan bahwa SFN dengan konsentrasi di atas 10 μM bersifat sitotoksik, sedangkan DIM bersifat sitostatik. Sedangkan perhitungan efek kombinasi menggunakan metode Chou dkk untuk campuran SFN dan DIM menunjukkan bahwa regresi linier dari dua senyawa tersebut tidak paralel. Dari data tersebut diperkirakan bahwa SFN dan DIM menghambat proliferasi dengan mekanisme yang berbeda. Kombinasi terbaik untuk menghambat proliferasi secara sinergis diperoleh pada perbandingan SFN:DIM = 1:1.

Efek cell cycle arrest pada SFN, DIM dan campuran. Pada beberapa jenis sel kanker, terbukti SFN menginduksi cell cycle arrest pada fase G2/M, sedangkan DIM pada fase G1. Pada penelitian ini penggunaan campuran SFN (5 μM) dan DIM (5 atau 10 μM), menunjukkan hasil sama seperti efek SFN sendiri yaitu berhenti pada fase G2/M. Ini membuktikan bahwa pada dosis rendah akan diperoleh efek antagonis pada campuran SFN dan DIM. Sedangkan jika SFN yang digunakan 10 μM akan memacu apoptosis pada sub-G1. Induksi apoptosis terbaik didapat pada campuran 10 μM SFN dan 10 μM DIM (23,9 ±2,2% sub G1). Kenaikan fraksi sub G1 akan seimbang dengan penurunan fase S sebagai sinyal penghambatan pertumbuhan sel.

Efek kombinasi yang diperoleh sangat tergantung pada dosis campuran SFN : DIM. Pada dosis rendah, efek yang dapat diamati adalah antagonis, sedangkan pada dosis tinggi memberikan efek sinergis. Hal ini kemungkinan karena mekanisme lain selain cell cycle arrest dan pemacuan apoptosis lebih berperan pada konsentrasi rendah. Perlakuan penggunaan SFN pada dosis rendah mungkin menyebabkan kenaikan detoksifikasi terhadap SFN sendiri sehingga menyebabkan timbulnya efek antagonis. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengelusidasi mekanisme interaksi dari kombinasi beberapa macam senyawa.

Traca et al. (2008) melakukan penelitian dengan memberikan diet 400 gram brokoli atau kacang-kacangan kepada 22 pria setiap minggunya. Brokoli diberikan sebanyak satu hingga dua porsi sebagai tambahan di dalam diet atau makanan mereka sehari-hari selama setahun. Contoh jaringan kemudian diambil dari kelenjar prostat mereka sebelum dan sesudah penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa brokoli mengubah gen yang berkaitan dengan keaktifan kanker prostat. Hal ini menunjukkan bahwa diet kaya brokoli mengurangi risiko menderita kanker prostat dan juga kemungkinan untuk melokalisasi kanker sebelum kanker tersebut menjadi agresif.

Referensi:

Dalimartha, S., Buku Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2,

Traka M., Gasper A. V., Melchini A., Bacon J. R., Needs P. W., Frost V., Chantry A., Jones A. M. E., Ortori C. A., Barrett D., Ball R. Y., Mills R., Mithen R. F., 2008, Broccoli Consumption Interacts with GSTM1 to Perturb Oncogenic Signalling Pathways in the Prostate, Plos One 3 (7) e2568

Pappa G, Strathmann J, Löwinger M, Bartsch H, Gerhäuser C., 2007, Quantitative combination effects between sulforaphane and 3,3′-diindolylmethane on proliferation of human colon cancer cells in vitro, Carcinogenesis vol.28 no.7 pp.1471–1477

Kontributor: Sarmoko, Yanni