Menu

Leunca (Solanum nigrum L.)

Leunca (Solanum nigrum L.)

1. Nama tumbuhan

Nama daerah : Leunca (Sunda), Ranti (Jawa), anti, Bobosa (Maluku)

Nama asing : long kui (Tiong Hoa), enab el-deeb (Arab)

Nama latin : Solanum nigrum L.

Sinonim : S. fistolosum Rich, S. nodiflorum Jacq. Solanum guineense (L) Lam. (Iwu, 1993; Wijayakusuma, 2005).

 

2. Klasifikasi tumbuhan

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub Kelas : Asteridae

Ordo : Solanales (suku terung-terungan)

Famili : Solanaceae

Genus : Solanum

Spesies : Solanum nigrum L. (Kartesz, 2004)


3. Deskripsi Tumbuhan

Tanaman ini termasuk ke dalam golongan semak, dengan tinggi lebih kurang 1,5 m. Memiliki akar tunggang dengan warna putih kocoklatan. Batang tegak, berbentuk bulat, lunak, dan berwarna hijau. Berdaun tunggal, lonjong, dan tersebar dengan panjang 5-7,5 cm ; lebar 2,5-3,5 cm. Pangkal dan ujung daun meruncing dengan tepi rata. Pertulangan daun menyirip. Daun mempunyai tangkai dengan panjang ± 1 cm dan berwarna hijau. Bunga berupa bunga majemuk dengan mahkota kecil, bangun bintang, berwarna putih, benang sari berwarna kehijaunan dengan jumlah 5 buah. Tangkai bunga berwarna hijau pucat dan berbulu. Buah berbentuk bulat, jika masih muda berwarna hijau, dan berwarna hitam mengkilat jika sudah tua ukurannya kira-kira sebesar kacang kapri Biji berbentuk bulat pipih, kecil-kecil, dan berwarna putih.

4. Kegunaan di masyarakat

Diketahui bahwa leunca (Solanum nigrum L.) mengandung bahan sebagai antiseptik, anti inflammasi dan antidisentri (Heiser 1969; Vogel 1990). Menurut Akhtar dan Mohammad (1989) bahwa serbuk dari tanaman dapat sebagai ulcerogenik. Selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai antimalaria (Watt dan Breyer-Brandwijk,1962)

Bijinya dapat digunakan untuk pengobatan gonorrhea dan disuria (Jain dan Borthakur, 1986). Tandon dan Rao (1974) melaporkan bahwa buah dan jusnya dapat menyembuhkan penyakit perut dan demam sedangkan tunasnya dapat digunakan untuk penyakit kulit. Selain itu, bunga dan daunnya dapat digunakan sebagai penurun panas dan melawan efek overdosis dari alkohol (Heiser, 1963). Daunnya yang di jus digunakan sebagai obat cacing, nyeri pada sendi serta sakit telinga (Grieve, 1931).

5. Kandungan Kimia dan Manfaat

Leunca (Solanum nigrum L.) mengandung solanine, solasonine, solamargine dan chaconine (Everist, 1974; Wetter dan Phipps, 1979; Cooper dan Johnson, 1984). Serta diketahui pada buah leunca yang belum matang mengandung steroidal alkaloid solasodine serta steroidal sapogenin diosgenin dan tigogenin. Pushpa Khanna dan Rathore (1977) melaporkan bahwa terdapat kandungan signifikan dari diosgenin (1,2%) dan solasodine (0,65%) pada buah leunca (Solanum nigrum L.) yang masih hijau (belum matang). Struktur berbagai macam metabolit yang dihasilkan dari Solanum nigrum L. dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Struktur Kimia α-Solanine (a), solasonine (b), solamargine (c),α-chaconine (d), solasodine (e), diosgenin (f) dan tigogenin (g) (Kanaya, 2000)

Saijo et al. (1982) meneliti pada buah Leunca (Solanum nigrum L)yang belum matang mengandung steroidal glikosida yaitu proto-desgalactotigonin, desgalactotigonin dan tigogenin3-O-β-D-glucopyra-nosyl-(1->2)-[β-D-glucopyranosyl-(1->3)]-β-Dglucopyranosyl-(1->4)-β-D-galactopyranoside (Gambar 3).

Gambar 3. Struktur Kimia desgalactotigonin (R=H) dan tigogenin 3-O-β-D-glucopyranosyl-(1->2)-[β-D-glucopyranosyl-(1->3)]-β-Dglucopyranosyl-(1->4)- β-D-galactopyranoside (R=CH2OH) (Ikeda, 2000)

Kemudian pada tahun 2000, Ikeda mengisolasi dari seluruh tanaman leunca (Solanum nigrum L.) dan diperoleh 2 senyawa steroidal oligoglikosida yang beraktivitas sitotoksik dan antiherpes yaitu nigrumnin I dan nigrumnin II (Gambar 4).

Gambar 4. Struktur Kimia Nigrumnin I (R1=H2 ; R2=H) dan Nigrumnin II (R1=O ; R2=OH) (Ikeda, 2000)

Hal tersebut dapat diketahui melalui β-2-solamargine yang diisolasi dari Solanum nigrum L. terbukti memiliki sitotoksik pada sel tumor HT-29 (kolon), HCT-15 (kolon), LNCaP (prostat), PC-3 (prostat), T47D (payudara), dan MDA-MB-231 (payudara) dalam uji in vitro. Sementara itu dari uji sitotoksik mengindikasikan bahwa kandungan utama senyawa antikanker pada Solanum nigrum L. adalah solamargine (Hu, 1999). Solamargin diketahui dapat memodulasi protein TNFRs dan bcl-2, dan potensial sebagai agen antikanker untuk sel kanker yang resisten TNFs and Bcl-2 (Liu, 2004). Selain itu solamargine menurunkan regulasi HER2 dan meningkatkan regulasi Fas dan ekspresi tumor necrosis factor receptor (TNFR) sehingga memacu jalur apoptosis sel yang termediasi mitokondria dan mensensitisasi nonsmall cell lung cancer (NSCLC) H441 dan A549. (Liang, 2008). Solanin yang diisolasi dari leunca mampu menginduksi apoptosis pada sel kanker hepar HepG(2) melalui penurunan ekpresi Bcl-2 yang ditunjukkan melalui western blot (Ji, 2008).

7. Penelitian Mekanisme Antikanker

Ekstrak etanolik leunca pada dosis tinggi (2 dan 5 mg/mL) dapat menginduksi apoptosis sel kanker hati HepG2 melalui peningkatan ekpresi p-JNK dan Bax, pelepasan cytochrome c, dan aktivasi caspase (Lin et al, 2007). Serta pada sel kanker yang sama diteliti solanine yang terkandung dalam ekstrak leunca menginduksi apoptosis juga melalui penurunan ekspresi Bcl-2 (Ji et al., 2008). Kemudian pemaparan selama 2 jam glikoprotein yang diisolasi dari leunca menunjukkan aktivitas sitosoksik pada sel kanker kolon HT-29 pada IC50 40 µg/mL. Serta meningkatkan ekspresi sitokrom C mitokondrial, perusakan pro-caspase-9, pro-caspase-3, dan poly(ADP-ribose) protein polymerase (PARP) pada sel HT-29 (Lee et al., 2005). Kemudian pada penelitian lain menggunakan isolasi glikoprotein hasil ekstraksi leunca pada sel HT-29 juga dapat menstimulasi ekspresi protein kinase C (PKC) dan nuclear factor (NF)kappaB melaui analisis western blot (Lim, 2005). Selain itu ekstrak etanolik buah leunca yang telah matang dapat menghambat proliferasi sel kanker payudara MCF-7 melalui apoptosis yang ditunjukkan melalui semakin banyaknya fragmentasi DNA (Son et al.,2003).

Daftar Pustaka

Kontributor: Raditya Prima Istiaji