Menu

Maman Ungu (Cleome rutidospermae D.C.)

Maman Ungu (Cleome rutidosperma D.C.)

1. Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Capparidales
Suku : Capparidaceae
Marga :Cleome
Jenis : Cleome rutidospermae D.C.
(Backer & van den Brink, 1965)

2. Morfologi Tanaman
Herba tegak, merambat atau tumbuh merangkak tinggi 0.15-0,80 m, berbunga sepanjang tahun. Daun mahkota bunga dengan ujung runcing seperti cakar, panjang 9-12 mm; di Jawa berwarna biru; bulu-bulu halus yang pendek; tangkai buah 20-30 mm; batang (berbentuk kapsul) yang masak berada di atas goresan daun berangsur-angsur meruncing seperti paruh; diameter biji 1,75-2 mm, elaiosom keputihan; helaian daun biasanya 3, bentuk daun memanjang atau bulat memanjang, tajam atau tumpul, dengan bulu-bulu tebal pendek; batang 0,5-2 cm dengan duri tipis. Dikenal dengan nama Maman ungu atau Maman lelaki (Waterhouse & Mitchell, 1998).

3. Habitat dan Penyebaran
Ditemukan di pinggir jalan, sawah, ladang. Juga ditemukan hidup sebagai epifit pada batu dan kayu. Terutama banyak ditemukan di Kalimantan (Waterhouse & Mitchell, 1998).

4. Kandungan Kimia dan kegunaan
Anggota famili Capparaceae mengandung tioglukosida (dikenal sebagai glukosinolat) yang melepaskan isotiosianat (minyak menguap) jika tanaman dihancurkan. Selain itu tanaman ini juga mengandung alkaloid dan flavonoid yang jenisnya belum diketahui (Mitchell et al.,2003).

Kegunaan
Pustaka maupun penelitian ilmiah mengenai khasiat Cleome rutidosperma D.C ini masih sangat terbatas dan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitasnya belum diketahui dengan pasti. Cleome rutidosperma dapat digunakan sebagai antifeedant (pengganti herbisida) untuk hama tanaman Brassica yaitu jenis Plutella xylostella (L.). Minyak menguapnya mempunyai aktivitas dapat mengiritasi kulit dan mungkin juga aktivitas kontak alergenik (Mitchell et al.,2003).

5. Penelitian Antikanker
Walaupun belum banyak diteliti, namun ternyata mengandung golongan senyawa potensial antikanker, seperti alkaloida dan flavonoida, yang keduanya berpotensi sebagai regulator negatif onkogen (kelompok gen pengatur daur sel) dan regulator positif gen tumor suppressor, sehingga berpotensi sebagai anti-kanker (Shapiro and Harper, 1999). Regulasi negatif onkogen akan menghentikan proliferasi sel kanker pada fase tertententu dari daur sel. Sebagai gen tumor suppressor, seperti protein p53 dan protein Retinoblastoma (pRb). Protein Rb mampu mengikat protein E2F (faktor replikasi), sehingga siklus sel akan dihambat (Gibbs, 2000). Contohnya alkaloida pada tapak dara (Chatarathus roseus (L.) G. Don) yang mampu menghentikan mitosis sel kanker pada metafase (Irna, 2001). Sedangkan flavonoida dapat menginduksi apoptosis melalui penghambatan aktivitas Topoisomerase DNA I/II, penurunan ROS (Reactive Oxygen Species), pelepasan sitokrom C, aktivasi endonuklease dan penurunan Mcl 1. Mekanisme flavonoid sebagai antiproliferatif sel kanker juga dapat melalui inaktivasi senyawa karsinogen (berkaitan dengan interaksi antara flavonoida dengan enzim yang berperan dalam metabolisme, misalnya enzim Gluthation S-Transferase), menghambat angiogenesis dan sebagai antioksidan (Pan et al., 2003). Anggota familia Capparaceae ini juga memiliki kandungan glukosinolat dan produk degradasinya, isotiosianat (Mitchell et al.,2003). Glukosinolat mampu memacu aktivitas zat antioksidan dan mekanisme detoksifikasi. Sedangkan isotiosianat dapat menghambat pertumbuhan tumor dan perkembangan kanker. Dari hasil penelitian American Health Foundation, tentang pengaruh konsumsi brokoli yang mengandung isotiosianat selama 11 tahun, diketahui orang yang kurang mengkonsumsi brokoli beresiko kanker paru 36 persen lebih tinggi (Anonim, 2003).


Referensi

Anonim, 2003, Brokoli Komandan Antikanker, diambil dari http://www.cybermed.cbn.net.id/

Backer, C.A., and Van Den Brink, R.C.B., 1965, Flora of Java (Spermatophytes Only), Vol II., N.V.D. Noordhoff-Groningen-The Netherlands.

Gibbs, J.B., 2000, Anticancer drug targets: growth factors and growth factor signaling, J. Clin. Inves, 105 (1): 9-13.

Irna, 2001, Tanaman Obat untuk Penderita Kanker, diambil dari http://pdpersi.co.id/, diakses pada Desember 2005.

Pan, M. H., Chen, W. J., Lin-Shiau, S., Ho. C. H., Lin, J. K., 2002, Tangeretin Induces Cell Cycle Through Inhibiting Cyclin dependent Kinase 2 and 4 Activities as Well as Elevating CDK Inhibitor p21 in Human Colorectal Carcinoma Cells, Carcinogenes, Oxford University Press, 23, 1677-1684.

Shapiro, GI., and Harper, JW., 1999, Anticancer drug targets: cell cycle and checkpoint control, J. Clin. Inves, 104 (12) : 1645-1653.

Mitchell, Mitchell & Jordan, & Richter, 1974, Capparaceae (Caper Family), diambil dari http://bodd.cf.ac.uk/BotdermFolder/BotDermC/CAPP.html, diakses Desember 2005.
Waterhouse, B. M, and A. A. Mitchell, 1998, Northern Australia Quarantine Strategy: Weeds target list, second edition, Australian Quarantine and Inspection Service, Misc. Pub., Australia, 29-30.

Kontributor : A. Fauzi Romadhon, Sarmoko, Rina Maryani