Menu

Ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels)

Ceremai (Phyllanthus acidus [L.] Skeels)

1. Nama tanaman

Indonesia:       Ceremai, cereme

Bahasa asing: Otaheite gooseberry, malay gooseberry (Inggris), Cermai (Melayu), Ma-yom (Thailand).

2. Klasifikasi :
Divisi : Spematophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae
Marga : Phyllanthus
Jenis : Phyllanthus acidus (L.) Skeels

3. Uraian tanaman

Habitus : pohon, tinggi ± 10 cm. Batang : tegak, bulat, berkayu, mudah patah, kasar, percabangan monopodial, coklat muda. Daun : majemuk, lonjong, berseling, panjang 5-6 cm, lebar 2-3 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, pertulangan menyirip, halus, tangkai silindris, panjang ± 2 cm, hijau muda. Bunga : majemuk, bulat, di ranting, tangkai silindris, panjang ± 1 cm, hijau muda, kelopak bentuk bintang, halus, mahkota merah muda. Buah : bulat, permukaan berlekuk, kuning keputih-putihan. Biji : bulat pipih, coklat muda. Akar : tunggang, coklat muda (Hutapea, 1994)

4. Kandungan Kimia dan manfaat

Daun, kulit batang, dan kayu mengandung saponin, flavonoid, tanin, dan polifenol. Akar mengandung saponin, asam galus, zat samak, dan zat beracun (toksik). Buah mengandung vitamin C.

Daun berkhasiat sebagai peluruh dahak, pencahar (purgatif), mual, kanker, dan sariawan. Kulit berkhasiat mengatasi penyakit asma dan sakit kulit. Kulit akar dan buah berkhasiat sebagai pencahar. Biji untuk mengobati sembelit dan mual.

Di Thailand, akar tanaman dimanfaatkan sebagai rehabilitasi dari seseorang yang kecanduan alkohol. Pengobatan ini sangat efektif, namun ternyata menimbulkan efek samping kronis yang cukup serius.

Vongvanich et al (2000) melaporkan penemuan senyawa glikosida Norbisabolane yaitu Phyllanthusols A and B yang bersifat sitotoksik terhadap BC dan KB cell lines. Phyllanthusols A (1) dan B (2) menunjukkan sitotoksisitas terhadap  BC (EC50 pada 4.2 dan 4.0 μg/mL untuk 1 and 2, masing-msaing) dan KB (EC50 pada 14.6 dan 8.9 μg/mL untuk 1 dan 2, respectively) cell lines, sedangkan aglikon 3 dan sakarida 4 tidak menunjukkan efek toksik. Senyawa ini ada dalam tanaman dengan karadar yang cuku p tinggi  (ca. 1 mg/g berat basah) dan senyawa sitotoksik glikosida norbisabolane g 1 pada akar  P. acidus, yang mungkin bertanggung jawab terhadap penyakit kronis ketika sesorang meminum ektrak akar tanaman ini.

Daftar Pustaka

Langsung klik link-nya