Menu

Mengapa Kanker dan Kemopreventif?

Blog CCRC ini mengambil tema kanker dan kemopreventif sesuai dengan penelitian yang dikembangkan pusat studi ini. Dewasa ini, insidensi penyakit kanker terus meningkat. Kalau pada zaman dahulu “kanker” hanya kita dengar di televisi atau kita baca di koran-koran sebagai berita yang menghebohkan, pada zaman sekarang, sudah banyak orang-orang di sekitar kita yang ternyata juga menderita kanker. Dari tetangga, saudara jauh, hingga saudara dekat. Apakah kanker juga merupakan penyakit yang mewabah?

Kanker banyak bermunculan terutama karena gaya hidup masyarakat yang mengalami pergeseran. Semakin banyak asap kendaraan dan asap rokok yang mengandung senyawa karsinogenik hidrokarbon aromatik polisiklik, serta makanan yang diolah dengan pembakaran atau pemanggangan (ayam bakar, ayam panggang) yang menyisakan arang hasil pembakaran yang juga karsinogenik. Pola makanan juga lebih cenderung berkembang ke arah “junk food” dengan konsumsi sayur dan buah yang kurang. Padahal senyawa penangkal yang bersifat antioksidan dan kemopreventif banyak terkandung di dalam sayuran dan buah-buahan.

Beberapa bahan alam (herbal) yang memiliki khasiat sebagai antikanker secara empiris telah di-upload pada blog ini. Keunggulan dari herbal yang tercantum dalam ensiklopedia CCRC ini adalah pada penelitian terdahulu yang telah dilakukan. Jadi, tidak semata-mata secara empirik saja, tetapi sudah ada sisi ilmiahnya. Namun, kekurangan yang memang masih belum kami lengkapi adalah bagaimana cara aplikasi langsung oleh masyarakat dalam bentuk herbal (tanpa pengolahan).

Target kemopreventif tidak hanya berfokus pada pencegahan terjadinya kanker semata, tetapi juga penghambatan pada tahap-tahap karsinogenesis secara keseluruhan. Agen Kemopreventif pada umumnya memiliki aktivitas penghambatan perkembangan kanker serta dapat meningkatkan kemungkinan kesembuhan dan menurunkan rasa sakit yang dialami oleh penderita kanker. Kenyataan yang sering ditemui adalah bahwa masyarakat yang terkena kanker tidak puas hanya dengan mengkonsumsi obat antikanker (kemoterapi) yang diberikan oleh dokter saja, tetapi juga masih mencari alternatif lain dari tanaman (herbal) yang yakini memiliki khasiat antikanker. Namun, alternatif yang dilakukan tidak selalu menjamin dapat mempercepat kesembuhan, dapat pula terjadi sebaliknya. Herbal alternatif yang diyakini sebagai obat, justru menurunkan potensi obat antikanker dalam membunuh sel-sel kanker. Dengan hadirnya blog ini, diharapkan masyarakat dapat menilai sendiri tanaman yang lebih tepat untuk diaplikasikan sebagai herbal alternatif sebagai antikanker sehingga efek sinergis yang diharapkan dapat tercapai. Beberapa penelitian kombinasi herbal (ekstrak) dengan obat antikanker juga telah dihadirkan dalam blog ini [xe-pt-i].