Menu

Antara NAIST dan CCRC (Kabar dari NAIST #part-1)

NAIST gate pemandangan pas autumn

di pinggiran kota yg tenang pintu gedung

Nara Institute of Science and Technology (NAIST) terletak di kecamatan Takayama, kota Ikoma, propinsi Nara. NAIST terdiri dari 3 departemen, yaitu Biological science, Information science, dan Material sciences. Antara NAIST dan CCRC dihubungkan oleh Bapak kita yaitu Pak Edy Meiyanto, Ph.D., yang notabene adalah alumni NAIST. Rupa-rupanya sistem pembelajaran mahasiswa di CCRC tercinta ini sedikit banyak mengadopsi situasi dan kondisi di NAIST.

Kehidupan di NAIST dimulai sekitar pukul 09.00 am waktu setempat. Pintu gedung secara otomatis akan terbuka pada pukul 07.30 am. Seringkali para mahasiswa datang lebih siang daripada berpagi-pagi. Apalagi di musim gugur yang dingin ini yang shubuhnya saja pukul 05.30 am. Namun, jangan salah, para mahasiswa di sini siap kerja lembur bahkan sampai menginap di kampus untuk bekerja di laboratorium. Mahasiswa S2 sering tidak terlihat karena kesibukannya mencari pekerjaan (job hunting), tetapi begitu dikejar progress report mereka mulai kerja gila-gilaan. Kalau mahasiswa S3 maupun Post-Doc selalu rajin bekerja setiap hari, bahkan tidak mengenal hari libur.

Fasilitas Laboratorium

Suasana Lab 201 Culture room

sequencer uv transilluminator & polaroid

Laboratorium di sini buka 24 jam karena tergantung pada mahasiswa yang sedang bekerja. sistem keamanan gedung memungkinkan para mahasiswa untuk bisa keluar masuk dengan mudah tanpa harus menunggu laboran atau penjaga gedung. Kalau di indonesia pada umumnya, maupun di lab kita khususnya, kita diwajibkan membayar lembur per jam kita bekerja di luar jam kerja. Selain itu, kita bekerja dengan ditungguin oleh penjaga. Model yang seperti ini mungkin memang sulit diterapkan di Indonesia karena faktor keamanan. Banyak oknum yang tidak dapat dipercaya. Bisa-bisa dalam tempo sebulan alat-alat lab ludes semua.

Kalau segi peralatan lab, jelas di sini jauuuh lebih lengkap dan canggih. Semisal, di sini ada ruang sekuensing khusus yang dilengkapi dengan beberapa mesin sekuensing dari beberapa zaman, ada ruang khusus NMR, confocal microscope, dan masih lainnya yang saya tidak tahu. Kalau peralatan untuk kerja biologi molekular sehari-hari sudah tersedia di setiap ruangan lab mahasiswa dan mahasiswa bisa menggunakan dengan bebas. Di sini juga tidak ada laboran sehingga mahasiswa kerja mandiri melakukan semua pekerjaan dari A-Z. Tidak seperti di Indonesia sehingga banyak mahasiswa yang tidak tahu ketika ditanya. Pada umumnya lab di sini mengadopsi lab di Amerika karena pengalaman para sensei. Hebatnya Jepang adalah anggaran dananya selalu ada untuk memenuhi segala macam bentuk permintaan alat yang diperlukan sehingga penelitian di sini tidak ketinggalan dengan di negara barat.

Setiap mahasiswa disediakan 1 komputer yang terhubung internet yang dapat digunakan 24 jam. Banyak jurnal yang dapat diakses dengan gratis, tentunya jurnal-jurnal yang berkaitan dengan materi departemen masing-masing.

Para Sensei

Para senseinya sangat pintar dalam teori juga ahli dalam mengerjakan pekerjaan lab. Sensei yang paling pintar adalah Profesor-nya (ya, jelas). Sensei mengajar dengan power point buatan sendiri dan walaupun sudah 50 tahun ke atas tetap ahli dalam mengoperasikan komputer. Bahkan sensei di lab saya bisa membuat program komputer sendiri semisal program untuk order bahan ke distributor. Ruangan sensei sangat terjangkau dari lab tempat mahasiswa bekerja. Sensei juga mendampingi pekerjaan mahasiswa dan mengajari teknik-teknik eksperimen secara langsung. Sensei juga mudah dicari dan hanya memiliki satu kantor serta tidak bekerja di tempat lain. Senang sekali menjadi mahasiswa di sini.

Seminar

Seminar diadakan secara rutin 2 kali dalam seminggu yang terdiri dari seminar hasil (progress report) dan seminar paper. Sayangnya karena kendala bahasa, jadi susah memahami isi paper dan hasil yang mereka presentasikan. Rata-rata mahasiswa S2 di sini tidak bisa ngomong bahasa inggris, jadi hanya menulis dan membaca saja. Beda ya, tidak seperti di Indonesia yang pada umumnya mahasiswa bisa ngomong inggris walau hanya greetings dan introduction.

Topiknya tentu saja mengarah pada molekuler. Membuat “plasmid construct” adalah hal yang biasa buat mereka karena enzim-enzim yang diperlukan tersedia di sini. Kalau di farmasi UGM, sementara ini BamH1, ECoR1, dsb. masih menjadi imajinasi dalam perkuliahan saja. Jadi bagi yang tidak suka berimajinasi, tentu saja kuliah molekuler akan menjadi kendala. Tapi kalau praktek kering seperti aplikasi BLAST dsb. di farmasi juga sudah menjadi hal yang umum.

International Student

Sejak hari ini, “international student” di NAIST ada sekitar 94 orang dan jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan promosi yang diadakan NAIST. Menurut hemat saya, mahasiswa dari Indonesia menempati posisi terbanyak dari “international student” yang saat ini adalah 14 orang. Dari web NAIST juga bisa dilihat populasi terbanyak dari Indonesia. Kendala utama sebagai mahasiswa internasional adalah bahasa. Jika berbekal nihon-go yang mencukupi itu akan sangat membantu. Misal jika kita mengikuti seminar yang 2 kali seminggu, akan kesulitan jika tidak mengerti nihon-go. Jika kita bertanya dengan bahasa Inggris pun, akan susah menjawabnya. Namun, dengan bahasa inggris yang pas-pasan juga bisa tetap survive selama kita bisa berkomunikasi dengan lancar. Bagaimana pun juga para sensei pada umumnya bahasa inggrisnya bagus karena berpengalaman tinggal di Amerika.

CCRC

Dari tahun ke tahun, mahasiswa farmasi, baik S1 maupun S2 yang magang di CCRC semakin meningkat. Saat ini ada lebih dari 30 mahasiswa S1 dan 4 mahasiswa S2. Mahasiswa S2 juga memiliki meja di CCRC walaupun nomaden dan fasilitas hot spot di farmasi memungkinkan untuk berinternet ria selama 24 jam. Sayangnya ada keterbatasan jurnal internasional yang bisa diakses. Kondisi di CCRC didesain sedemikian hingga mahasiswa dapat belajar mengerjakan penelitian juga berdiskusi dan mempresentasikan hasil penelitian bersama. Namun, jadwal diskusi yang rutin masih sulit terlaksana karena kesibukan dan minat mahasiswa S1 terutama yang masih kurang. Mahasiswa juga dilatih untuk membuat proposal penelitian sendiri dan draf publikasi. Hal ini sangat membantu untuk memberikan dukungan terhadap dana penelitian bersama untuk keberlangsungan pembelajaran serta meningkatkan prestasi mahasiswa dalam ajang seminar baik di tingkat nasional maupun internasional (X-pTi 081221-23).